Mengaktifkan Kekuatan Tenaga Kerja Tersembunyi

Saat ini semakin sulit dan kompetitif untuk mencari tenaga kerja yang sudah memiliki kemampuan, karena perusahaan-perusahaan ingin membangun tenaga kerja luwes yang bisa bergerak lebih cepat dari ekspektasi pasar dan mampu bersaing dalam perekonomian global masa kini. Namun, tiap tahun makin banyak tenaga kerja berpengalaman yang hilang, karena pensiun atau harus mengurus rumah tangga. Sementara di sisi lainnya, profesional muda lebih mementingkan pendidikan dibandingkan karir.

Memanfaatkan kekuatan ‘tenaga kerja tersembunyi’ ini merupakan peluang bagi perusahaan-perusahaan untuk memperbesar jumlah karyawan guna menjawab tantangan jurang keahlian. Juga akan membantu mengurangi absen, meningkatkan produktivitas, serta memperbesar keterlibatan dan loyalitas karyawan.

Hans A. Utomo, Country Manager, Indonesia, Citrix Systems, Inc. berbagi tip-tip untuk mencapai hal ini dan membangun sebuah proposisi nilai karyawan untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja tersembunyi:

  1. Menyediakan jadwal kerja yang fleksibel

Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi adalah lebih penting bagi tenaga kerja tersembunyi dibandingkan kelompok lainnya karena mereka mencoba beradaptasi terhadap berbagai kebutuhan untuk tanggung jawab profesional yang tinggi dan kehidupan pribadi yang sibuk, seperti antar-jemput anak di sekolah atau janji konsultasi dokter.

Menghilangkan struktur kerja tradisional yang kaku dan mengadopsi jadwal kerja fleksibel, seperti minggu kerja yang dipadatkan, waktu fleksibel, berbagi kerja atau pengurangan jam kerja, adalah cara yang efektif bagi perusahaan untuk menciptakan tempat kerja yang mendorong keseimbangan ini.

Bagi perusahaan-perusahaan yang bermigrasi ke jadwal kerja baru, cari pendapat dari eksekutif dan karyawan lewat survey internal untuk membantu memperkenalkan cara baru ini. Memulai sebuah program perdana dengan beberapa karyawan terpilih akan memberikan peluang bagi perusahaan untuk mengoptimalkan penawarannya sebelum menyediakannya bagi seluruh karyawan.

  1. Mengakomodasi kerja di luar kantor dan penyebaran tim

Mental “kehadiran” tradisional yang dimiliki pimpinan mensyaratkan kehadiran fisik pekerja di kantor, lebih lama dari yang sebenarnya dibutuhkan, namun hal ini sering kali berakibat pada konflik dengan tanggung jawab keluarga, atau kondisi kesehatan. Misalnya, pekerja yang sudah berumur atau sedang hamil mungkin menganggap perjalanan sebagai sebuah tantangan karena kondisi fisik dan mudah lelah.

Teknologi, seperti virtualisasi, cloud, jaringan software-first, berbagi file enterprise dan pengelolaan mobilitas, akan memungkinkan pekerjaan untuk menyesuaikan diri dengan gaya hidup dan menjadikan perusahaan lebih menarik bagi kelompok ini. Hal ini juga akan mengakibatkan pengurangan biaya tempat kerja bagi perusahaan.

  1. Ciptakan peluang untuk kolaborasi

Sebagian pekerja mungkin secara permanen dibatasi lokasi pemukimannya karena lokasi geografis, kehamilan, masalah kesehatan serius atau tanggung jawab keluarga. Hal ini mengakibatkan hilangnya interaksi tatap-muka dan kolaborasi dengan kolega di kantor.

Konsekuensinya adalah para pekerja ini bisa menghadapi berbagai halangan unik seperti isolasi, yang bisa mempengaruhi motivasi dan produktivitas mereka. Perusahaan-perusahaan yang berinvestasi dalam solusi-solusi kolaborasi virtual akan bisa menyesuaikan lebih baik terhadap gaya-gaya kerja yang lebih beragam, sambil sekaligus menyatukan komunikasi dan meningkatkan keterlibatan karyawan.

  1. Menyediakan program pelatihan karyawan

Perusahaan harus menyediakan berbagai peluang pengembangan dan pelatihan untuk memperbarui keahlian, guna menghubungkan permintaan kerja dengan kemajuan teknologi.

Ini akan menjadi penting bagi orang tua dan pekerja dewasa yang sudah lama tidak bekerja dan mungkin merasa segan untuk kembali bekerja.

Untuk menjawab hal ini dan membangun tingkat pengertian yang konsisten, perusahaan-perusahaan harus mempertimbangkan untuk menawarkan pelatihan yang menarik akan berbagai gaya kerja; lokakarya tatap-muka, modul e-learning atau bahkan program mentoring peer-to-peer.
Membangkitkan gairah karyawan untuk bekerja lebih efisien akan mencegah mereka untuk membawa pulang pekerjaan, dan kemudian akan meningkatkan moral dan kesejahteraan dengan memungkinkan mereka untuk menikmati waktu mereka ketika tidak bekerja.

  1. Membangun budaya tempat kerja nrimo

Sebagian pimpinan perusahaan masih bimbang terhadap pengaturan kerja fleksibel karena halangan budaya yang berhubungan dengan kepercayaan dan persepsi yang salah bahwa pengaturan ini lebih menguntungkan karyawan dibandingkan perusahaan.

Ini bisa berakibat para karyawan menjadi segan untuk memanfaatkan kebijakan-kebijakan tersebut karena takut kehilangan promosi, pemecatan atau diremehkan. Di lain pihak, mereka yang melakukan kerja fleksibel sering kali melakukan over-kompensasi dengan mengirim lebih banyak email, melakukan lebih banyak panggilan telepon atau bekerja lebih lama supaya kelihatan ‘hadir’.

Untuk menghilangkan sikap skeptis ini, perusahaan-perusahaan harus melatih pimpinan dalam cara mengelola pekerja ‘luar-kantor’ dengan lebih efektif dan membuat sistem untuk mengukur kinerja atau hasil, alih-alih kehadiran fisik di kantor atau jumlah jam kerja. Software bisa membantu perusahaan untuk dengan mulus memonitor dan mengelola karyawan yang bekerja di luar kantor.

Meningkatnya persaingan global, kekurangan tenaga kerja yang bisa mempengaruhi perusahaan, dan perubahan dalam demografis tenaga kerja membuat perusahaan wajib menemukan strategi untuk mengidentifikasi dan menggunakan tenaga kerja berkeahlian dengan lebih efektif.

Pemimpin-pemimpin harus mengambil langkah untuk mengadaptasi berbagai strategi sumber daya manudia guna menciptakan pilihan dan keahlian untuk menarik, melibatkan dan mempertahankan pekerja dengan lebih baik dari tenaga kerja tersembunyi – sebuah kelompok pekerja yang belum dimanfaatkan dan sebuah peluang besar bagi perusahaan – untuk menjawab berbagai tantangan bisnis di masa depan dan menjadi yang terdepan dalam Future of Work.

Related posts

Leave a Comment