Karakter Millennials dalam Industri Marketing

karakter millennials

Millennials, mereka yang lahir antara 1980an dan 1990an, telah mencuri perhatian indsutri marketing dunia. Dengan kefasihan dalam dunia digital, karakter Millennials sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya dan sangat sulit menjangkau mereka dengan pendekatan marketing tradisional. Ingin menjadikan mereka target bisnis Anda? Pahami terlebih dahulu karakternya.

Semua orang yang hidup di era ini sepakat bahwa teknologi berkembang makin pesat dan terus berinovasi. Bukan sekadar tren, teknologi sudah menjadi semacam “pegangan” yang digunakan oleh masyarakat dalam melakukan aktivitasnya, termasuk oleh Millennials dan dalam hal belanja. 

Kesenjangan Antar Generasi Millennials

Penelitian yang dilakukan oleh Hakuhodo Institute of Life and Living ASEAN (“HILL ASEAN”), sebuah lembaga pemikir yang didirikan di Thailand pada Maret 2014 oleh Hakuhodo Inc. (Minato-ku, Tokyo; Masayuki Mizushima, President & CEO), perusahaan periklanan kedua terbesar di Jepang, menyebutkan bahwa generasi 1980an selalu membandingkan produk di dua platform pembelanjaan (online & offline) untuk mendapatkan barang yang terbaik. Mereka menjadikan fase perbandingan ini sangatlah penting.

Sementara dalam presentasi kedua HILL ASEAN berjudul “ASEAN MILLENNIALS: One Size Fits All? A Generation Gap in ASEAN” yang diumumkan di Jakarta pada 17 Mei 2017 tersebut, disebutkan bahwa tendensi yang sama juga terjadi di dunia digital, karena generasi 1990an tidak memiliki kesenjangan antara dunia nyata dan virtual. Digital hanyalah bagian dari kehidupan sehari-hari mereka, sehingga mereka selalu menampilkan warna yang sesungguhnya. Pola belanja mereka tidak berhenti, bahkan setelah mereka belanja. Mereka cenderung berbagi pengalaman pascabelanja. Gaya belanja mereka tidak lagi linear, namun membentuk suatu lingkaran proses.

 

Berdasarkan hasil riset tersebut, dapat dikatakan bahwa kedua generasi Millennials memiliki pola belanja yang mirip. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa pola belanja mereka cenderung spontan. Millennials selalu menumbuhkan berbagai macam kreativitas baru dengan perkembangan teknologi sebagai penentu. Hal ini dibuktikan dengan hasil riset Screenagers++: Multiplied Experiences, Real-time Emotions (2016) yang menyebutkan bahwa jumlah pengguna smartphone di Indonesia pada 2016 mencapai 86 persen, meningkat 9 persen dibanding tahun 2014.

Karakter Millennials dan Peluang Bisnis

Dengan karakter dan pola belanja Millennials yang demikian, sebenarnya peluang bisnis seperti apa sih yang cocok untuk Anda garap? Pastinya, bisnis yang mengandalkan teknologi, ya! Apa saja contoh bisnis rumahan, mengandalkan perkembangan teknologi, dan tentu saja menguntungkan?

1. Bisnis jasa foto. Kemudahan teknologi kamera saat ini memudahkan Anda untuk menjadi seorang fotografer profesional. Asah cita rasa seni dan keahlian foto Anda dengan menjadikan produk-produk tertentu sebagai objek dan unggah hasilnya di sosial media seperti Instagram. Jangan lupa sisipkan watermark ciri khas Anda agar orang mudah mengenalinya. Jenis keahlian ini cukup banyak peminatnya, terutama bagi mereka yang membutuhkan jasa foto produk seperti makanan, pakaian, hingga kosmetik, bahkan tak sedikit desain interior.

2. Dropshipper. Dropshipper berarti berjualan produk tanpa memiliki stok. Berbekal pertemanan dan perkenalan dengan beberapa pebisnis atau supplier, Anda bisa memulai bisnis ini. Cara memasarkannya pun mudah. Hanya dengan mengandalkan sosial media seperti Facebook atau Instagram serta membuat situs web sendiri Anda sudah bisa membuat etalase berupa produk-produk tertentu yang akan dijual secara online, meskipun tidak memiliki stok produk.

Ketika seorang konsumen tertarik dan ingin membeli produk yang dijual, Anda mengajukan orderan tersebut ke pihak supplier, kemudian supplier mengirimkannya langsung kepada konsumen. Jangan lupa, pastikan konsumen telah membayarnya secara transfer ke rekening yang Anda tentukan dan pastikan Anda pun telah mentransfer pembayaran tersebut kepada supplier. Untuk bisa menjadi dropshipper yang baik, pastikan Anda telah mengetahui kualitas barang supplier yang Anda jual.

3. Afiliasi. Secara umum, afiliasi tidak jauh berbeda dengan dropshipper. Namun, beberapa afiliasi biasanya memiliki produk atau stok barang. Media penjualannya pun sama, yaitu melalui sosial media hingga situs web. Pada sistem afiliasi, Anda bisa berkreasi dengan produk Anda sendiri. Dengan demikian, keuntungan yang akan Anda peroleh makin bertambah.
Nah, apakah Anda Millennials yang siap menyangsa Millennials? Selamat berkreasi!

 

Sumber: 

Riset HILL ASEAN berjudul “ASEAN MILLENNIALS” One Size Fits All? A Generation Gap in ASEAN” (2017).

Riset Accenture berjudul “Screenagers++: Multiplied Experiences, Real-time Emotions” (2016).

 

 

Editor: Andiana Moedasir

Related posts

Leave a Comment