Seno Haryo: Hobi Berbuah Bisnis

Siapa yang tidak senang melakukan bisnis karena hobi atau hobinya membuahkan bisnis? Adalah Seno Haryo yang tertarik dunia fotografi sejak remaja dan hobi ini mengantarkan pada profesinya saat ini: Toys photographer.

Pada 2011, sebagai orang pertama yang membuat pameran toys photography di Indonesia, pameran toys photography pertama Seno mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Sebelumnya, Sideshow Collectibles, pemegang lisensi Star Wars dari Amerika Serikat, mengontak Seno karena cukup aktif memublikasikan hasil karyanya di media sosial, seperti forum mainan di Facebook dan forum fotografi. Pihak Sideshow Collectibles menghubunginya untuk mengajak kerja sama sebagai toys photographer independen yang berlisensi.

Seno terbilang cukup rajin mengadakan pameran toys photogtaphy di Jakarta. Hingga saat ini ia pun sudah beberapa kali menggelar pameran di Singapura, Jepang, dan Shanghai. Ke depan, diperkirakan akan banyak lagi. Biasanya dalam setahun selalu ada beberapa jadwal pameran. Menurutnya, orang luar negeri lebih mengapresiasi karya-karya toys photogtaphy. Satu foto bisa dijual US$ 200. Sejauh ini ia bisa menjual 24 foto di tiga pameran dengan kisaran harga tersebut. Foto termahal mencapai US$ 350.

Menurut Seno, sudah banyak pemain fotografi secara umum. Sementara, toys photographer masih jarang. Ia melihat di Indonesia yang bisa menjadi penghasilan bagi fotografer adalah foto untuk pernikahan (wedding) atau iklan. Pemilik studio Photomotion ini pun tidak luput dari berbisnis foto pernikahan. Untuk tarif memotret di pernikahan, ia mematok harga paket dari Rp19 juta hingga Rp38 juta, dengan paket favorit yang harga Rp 25 juta.

Seno membesut studio Photomotion di bawah PT Photomotion Art Imaging pada 2005. Waktu itu, ia menyewa tempat di daerah Tebet, Jakarta Selatan, selama dua tahun. Kemudian, ia membeli tempat sendiri di Kemang, Jakarta Selatan. Namun, pada 2014 kantor plus studionya di Kemang ia jual karena mendapatkan penawaran dari pembeli dengan harga enam kali lipat dari harga saat dibeli. Saat ini, ia membangun ruko dan studionya yang baru.

Seno mengaku dirinya tidak mau hanya berbisnis fotografi. Ia merasa harus memiliki bisnis atau investasi lain. Itu sebabnya, ia juga memiliki investasi di properti dan berbinis food court di sebuah kampus swasta di Jakarta.

Related posts

Leave a Comment