Olah Minyak Jelantah Jadi Biodiesel, Gen Oil Jadi Juara Ideas For Indonesia 2016

minyak jelantah, biodiesel, ideas for indonesia

Perusahaan pengolahan minyak jelantah menjadi bahan bakar diesel Gen Oil menjadi juara pertama Ideas For Indonesia 2016. Direktur Utama Gen Oil Andy Hilmi dinobatkan menjadi pemenang pada gelaran festival kreatif Ideafest 2016 itu, mengungguli empat finalis lainnya, yaitu Adi Reza Nugroho dari Mycotech (Bandung), Nico Setyo dari Omah Yogurt Stevia (Sleman), Abraham Auzan dari TELE-CTG (Jakarta), dan Wendy Pratama dari Lingkaran (Jakarta). Sebagai pemenang, Andy berhak atas hadiah uang tunai sebesar Rp 100 juta, dan perjalanan edukasi ke Inggris bersama British Council.

“Gen Oil  ingin berkontribusi mendukung ketahanan energi nasional yang harus dimiliki setiap kota. Sebab ke depannya, ini akan berdampak pada kesehatan, lingkungan alam, dan kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih baik,” kata Andy pada acara Ideafest 2016, Sabtu (24/9), di Jakarta.  

Ide mengolah minyak jelantah muncul saat Andy Hilmi jajan gorengan dan melihat minyak hitam yang sisa penggorengan. Di saat yang sama, isu mengenai kenaikan harga BBM selalu menjadi materi protes mahasiswa di Makassar. Apalagi tahun itu, 2011, terjadi krisis bahan bakar di Makassar, yang sering menyebabkan antrian panjang mobil dan truk di SPBU.

Pada 2012, mereka mulai melakukan riset kecil-kecilan. Karena keterbatasan dana, hasil percobaan sering gagal. Tapi Andy menolak menyerah. Ia kemudian sering meminjam laboratorium kampus. Tahun 2013, Andy bertemu dengan Achmad Fauzi Azhari, dan teman-temannya. Mereka sepakat membuat bahan bakar biodiesel dan bersedia patungan dengan menyisihkan bahan baku. Dua tahun kemudian, akhir 2014, mereka baru benar-benar berhasil memproduksi biodiesel dengan kapasitas 30 liter per hari.

Melihat ada arah positif, Andy dan timnya sepakat mendirikan perusahaan berbentuk CV sekaligus pabrik untuk produksi. Mereka menggadai harta pribadi seperti motor, mobil, dan tanah hingga terkumpul Rp300 juta sebagai modal awal untuk produksi. Untuk mengirit ongkos produksi pabrik berkapasitas 4.000 liter per hari itu, mereka mengerjakan hampir semuanya, termasuk rancang bangun pabrik hingga mengelas, dan menggerinda.

Setelah berjalan 6 bulan, Gen Oil mendapat suntikan dana dan pemberdayaan dati Social Entrepreneur Academy (SEA) Dompet Dhuafa. Efeknya, Gen Oil bisa memberdayakan mantan preman untuk mengumpulkan minyak jelantah dari restoran, warung makan, kafe, dan hotel. Gen Oil membayar Rp2.000 per liter minyak jelantah.

Dari 10 kelompok mantan preman yang dirangkul GEN Oil, pasokan bahan baku 30 ribu liter minyak jelantah aman tiap bulan. Bagi para mantan preman, mereka punya keuntungan sekitar Rp500 – Rp 1000 per liter minyak jelantah. Tentu saja, ini menjadi hubungan bisnis yang saling menguntungkan. Kadang-kadang, Gen Oil juga memberikan modal kerja untuk kelompok mantan preman agar mereka bisa membeli minyak jelantah, meski kadang-kadang mereka mendapatkannya gratisan.

Menurut Andy, konversi produksi tergolong baik sebab sari seluruh minyak jelantah yang didapat, nyaris semuanya bisa diolah menjadi biodiesel. Bahkan limbah proses produksi berupa gliserol bisa dijual kembali menjadi bahan dasar pembuatan sabun mandi.

Biodiesel itu kemudian dijual ke pengecer Rp6.000 per liter, dan kemudian dijual ke nelayan dengan harga Rp6.500. Biodiesel ini menjadi solusi bagi nelayan karena keterbatasan solar. Permintaan solar di Makassar mencapai 21 ton sementara pemerintah baru mampu  menyediakan stok 16 ton. Di sini lah, peran GEN Oil menjawab kebutuhan pasar sehingga masyarakat tak perlu membeli ke pasar gelap dengan harga di atas angka normal.

Selamat GEN Oil, teruslah menginspirasi!

Related posts

Leave a Comment