CEO BILNA FERRY TENKA: Kamu Perlu Ide Baru Untuk Bisnis E-Commerce

ferry tenka, e-commerce, bisnis

Meninggalkan karier di Silicon Valley, Ferry Tenka memilih pulang ke Indonesia dan merintis bisnis e-commerce. Ia memulai dengan Disdus, berlanjut ke Berrybenka dan saat ini menjalankan Bilna.

Ferry pertama kali membangun startup Citzle atau City Puzle, bersama teman kuliahnya di Amerika Serikat, Jason Lamuda. Citzle menyediakan ruang bagi penggunanya untuk memberikan ulasan tentang kualitas restoran tertentu. Sayangnya, karena baru dan penggunanya belum banyak, sehingga pemilik restoran juga tidak tertarik beriklan, Citzle pun tutup.

Belajar dari pengalaman tersebut, Ferry mendirikan startup lain bernama DisDus di tahun 2010. Sebagai startup daily deals DisDus menyediakan voucher diskon restoran, salon, produk rumah tangga, paket wisata, dan sebagainya. Voucher diskon yang beragam dengan durasi terbatas membuat konsumen tertarik, DisDus pun naik daun.

Sampai kemudian, perusahaan daily deals asal Amerika Serikat, Groupun masuk ke Indonesia dan di tahun 2011 mengakuisisi DisDus yang memang mengadopsi konsep Groupun, jadilah namanya berganti menjadi Groupun DisDus.

Setelah melepas DisDus, Ferry dan Jason mendirikan online shop bernama Berrybenka yang menyediakan berbagai kebutuhan fashion wanita dan pria. “Saya sudah lepas Berrybenka, kalaupun masih ada saham jumlahnya sedikit,” jelas Ferry.

Kini, bersama Eka Himawan, yang juga rekan kuliahnya di Amerika Serikat, Ferry menjalankan e-commerce yang menyediakan perlengkapan ibu dan bayi bernama Bilna. Sebelum Bilna lahir, Ferry dan Eka menghabiskan waktu untuk brainstorming mencari bisnis yang tepat. “Dari ide berbisnis di bidang printing sampai stationary kami bahas ketika itu. Tapi kami ingat, segmen ibu-ibu dan wanita peluang pasarnya amat besar, jadilah kami memutuskan berbisnis perlengkapan bayi dan wanita,” urai Eka yang disambut anggukan setuju Ferry.

Ternyata perhitungan Ferry dan Eka tidak meleset, pasar kaum ibu dan wanita besar tapi belum tergarap maksimal di sektor e-commerce. Resmi meluncur di tahun 2013, jumlah visitor Bilna hari ini rata-rata mencapai 40 ribu dengan jumlah transaksi sekitar 5 ribu order dalam sehari.

Meski begitu, Ferry mengakui, industri e-commerce di Indonesia penuh tantangan. Salah satunya tantangan logistik. “Pasar Indonesia sangat scattered sekali, karena pulau-pulau tersebar sehingga pengiriman ke pelosok kerap jadi kendala. Kalaupun membuka cabang di daerah pelosok, penetrasi jaringan internet belum sebaik di Jakarta atau kota besar lainnya,” jelas Ferry.

Tantangan lain ialah bagaimana mengedukasi pasar. Kaum wanita dan ibu-ibu di Indonesia memang banyak jumlahnya, sayangnya, baru sebagian kecil yang akrab dengan belanja online. Menurut Ferry, member Bilna saja baru 200 sampai 300 ribu, sementara jumlah kaum ibu dan wanita jauh lebih besar lagi. Karenanya Bilna perlu terus mengedukasi pasar, khususnya kaum ibu dan wanita, salah satunya dengan menawarkan pengalaman belanja yang aman dan nyaman di Bilna. “Bisnis e-commerce tidak semudah hanya membuat website, butuh kegigihan. Jangan jadi pengekor, cari ide baru yang belum pasaran kalau mau bertahan,” pungkas Ferry berpesan. (JO)

Related posts

Leave a Comment