Abie Abdillah: Menghantarkan Rotan ke Italia

abie abdullah, bisnis rotan, studio hiji

Jika kamu masih mengulik ide bisnis, coba ingat-ingat kenangan masa kecil yang masih kamu kenang sampai sekarang. Bisa jadi, itulah ide bisnis yang selama ini kamu cari. Seperti Abie Abdillah, pendiri dan pemilik bisnis Studio Hiji yang berfokus pada rotan.

Abie bercerita, ia dan kakak perempuannya selalu bermain dekat kursi rotan. Di rumahnya memang terdapat beberapa perabotan rotan yang merupakan replika karya desainer Jepang, Isamu Kenmochi, desainer sangat dihormati pada masanya.

Semakin dewasa, Abie semakin terpesona pada karya-karya yang terbuat dari rotan. Lulusan Jurusan Desain Produk Institut Teknologi Bandung ini punya impian besar terhadap rotan Indonesia untuk sukses di kancah internasional.

Sejak masa kuliah, Abie yang banyak menerima penghargaan di ajang desain internasional itu memang mempelajari rotan. Untuk mendalami rotan, Abie datang ke perusahaan PMA asal Jepang, Yamakawa, di Cirebon. Ia ‘menyusup’ bersama rombongan mahasiswa Desain Interior ITB dan berhasil berbincang dengan pemiliknya, Yuzuru Yamakawa. Perbincangan itu mendatangkan ilham bagi Abie.

Menurut Yuzuru, bila ingin menjadi desainer terkenal dan dihargai di dunia maka harus mau menjadi desainer rotan. Di dunia, rotan Indonesia mendominasi 80% pasaran, namun jarang desainer Indonesia yang mau memproduksinya. Mungkin karena bahan rotan tidak sepopuler sumber alam lainnya seperti kayu.

Studio Hiji

Pada tahun 2009, Abie percaya diri membuka Studio Hiji, studio desain yang fokus pada rotan. Dengan sistem direct selling, Studio Hiji memiliki sekitar puluhan tipe mebel yang bisa di-custom pelanggan. Dengan kemampuannya, Abie membuat desain perabotan dengan material rotan yang eksotis dipadankan dengan nuansa modern kontemporer.

Namun proses sesungguhnya baru dimulai saat Abie memasarkan produk. Ia harus bekerja keras dan mengeluarkan dana hingga puluhan juta, namun tak kunjung membuahkan hasil yang sepadan. Ini terus berlangsung selama satu sampai tiga tahun awal bisnisnya. Kondisi makin parah saat Abie resign sebagai karyawan pada 2012, sehingga ia tak punya penghasilan untuk mengikuti pameran dan produksi. Abie tak menyerah.  “Bila kita berhenti maka habis sudah,” ujarnya.

Abie mencoba berbagai strategi untuk merangsang order dan bekerjasama dengan studio lainnya. Kegigihannya mulai terlihat kini. Sekitar 80% produk Studio Hiji sudah dipasarkan di dalam negeri dan 20% nya di luar negeri. Meski pangsa pasar utama masih berada di lokal, namun produknya mendapatkan apresiasi besar di luar negeri terutama di Eropa dan Amerika.

Dihargai Cappellini

Salah satu karya Abie berupa kursi yang terbuat dari material rotan kini terdaftar dalam koleksi brand furnitur ternama asal Italia, yakni Cappellini. “Saya mempersembahkan kebanggaan ini untuk Indonesia. Material rotan lokal kini menjadi sejajar dengan produk kelas dunia lainnya, karena tidak sembarang produk dan material bisa terpilih dan digunakan untuk koleksi Cappellini,” kata Abie.

Ini bukan prestasi sembarangan. Baru kali ini rotan bisa masuk ke dalam produk Cappellini. Produk itu lantas diluncurkan Cappellini pertama kali pada April 2016 di Milan, Italia, menyusul di New York, Amerika Serikat. “Yang terpenting adalah bisa melihat apresiasi yang besar dari luar negeri terhadap material rotan yang merupakan material lokal Indonesia,” ucapnya.

Pendapatan Studio Hiji pun mulai meningkat. Omset tahun 2015 tercatat Rp400 juta, dan pada kuartal pertama 2016 mencapai Rp505 juta. Abie semakin bersemangat mengembangkan Studio Hiji dengan menggandeng Venture Capital. “Masih ingin punya showroom sendiri, ingin ikut pameran nasional dan internasional.” (GIT)

Related posts

Leave a Comment