Bad Habits of Marketing Planning

Sebagai konsultan, saya terlibat dalam workshop marketing plan (MP) di banyak perusahaan. Ada temuan menarik dari praktik MP ini. Para marketer sering melakukan tiga “kebiasaan buruk” dalam pembuatan dan pelaksanaan MP.

Bad Habits #1: Ritual

Kebiasaan buruk pertama adalah marketer umumnya menyikapi penyusunan MP sebagai sebuah ritual tahunan yang membosankan. Kenapa? Karena isinya gitu-gitu saja, dari tahun ke tahun tidak banyak perubahan. Tinggal copy-paste dari isi yang tersusun pada MP tahun sebelumnya. Saya menduga mereka menggunakan jurus copy-paste karena malas melakukan kajian lingkungan bisnis, skala makro (teknologi, politik, ekonomi, sosial), pesaing, maupun pasar/pelanggan. Sejatinya, Anda tidak boleh menyusun strategi sebelum melakukan kajian perubahan lingkungan bisnis. Berdasarkan hal tersebut, strategi, taktik, dan program pemasaran disusun. Kalau tidak menemukan perubahan karena tidak bisa atau malas, saja strategi, taktik, dan program yang disusun tidak akan banyak beda dengan tahun sebelumnya.

Bad Habit #2: Obligation Not Requirement

Kebiasaan buruk kedua adalah marketer menyikapi penyusunan MP lebih karena “penugasan” dari atasan, alih-alih “kebutuhan” untuk bersaing di tahun depan. Karena penugasan, penyusunan MP lebih bersifat formalitas. Celakanya lagi, banyak marketer menyusunnya dengan iktikad “asal bos senang”. Tidak heran jika kita banyak menjumpai MP yang dihiasi angka-angka dan skenario indah, tidak lagi berdasarkan realitas yang ada di lapangan.

Bad Habit #3: Lasting Forever

Kebiasaan buruk terakhir, setelah MP dibuat, marketer cenderung menganggapnya sebagai “kitab suci” yang tidak pernah dan tidak berani diutik-utik isinya. Seharusnya MP tidak menjadi dokumen mati yang tak tersentuh, melainkan terbuka untuk dievaluasi kapan pun. MP seharusnya menjadi semacam “living organism” yang harus terus berubah, berevolusi, dan “belajar” mengikuti berbagai perubahan di lapangan saat diimplementasi. Caranya, MP haruslah dievaluasi, direvisi, dan diadaptasi dengan perubahan yang ada.

Ingat, rumus baku ini: Begitu lingkungan bisnis berubah, maka strategi, taktik, dan program yang harus dijalankan juga turut berubah. Saat implementasi, begitu Anda mendapati pesaing bergerak menyimpang dari yang diprediksi atau harga minyak tiba-tiba melonjak liar, maka saat itulah Anda harus bersiap mengubah strategi, taktik, dan program.

Ditulis oleh: Yuswohady
Sumber: marketplus.co.id

Related posts